Tags

, , ,

Sobat yang baik, i’tikaf pada intinya adalah berdiam diri di mesjid, berkhalwat ( mengasingkan diri), dengan niat dan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. dalam pengertian yang lain i’tikaf ialah memutuskan hubungan dengan makhluk, untuk menghubungkan diri dengan Khalik-Nya, melalui jalan pengkhidmatan dan berdiam secara khusuk menjalankan ibadah.

Alangkah baiknya pekerjaan sunah ini untuk melakukannya, karena sesuatu ibadah yang wajib apabila tidak didukung dengan ibadah sunah dianggap kurang sempurna. Kalau kita lihat i;tikaf adalah bagian dari pekerjaan yang disunnahkan, maka pahalanya bernilai tinggi.Apalagi Rasulullah saw selalu beri;tikaf setiap bulan Ramadhan, selama 10 hari terakhir. Pada tahun beliau wafat, bahkan beri’tikaf selama 20 hari. Selanjutnya jejak Rasulullah saw beri’tikaf di bulan Ramadhan, diikuti oleh istri dan para sahabatnya, baik ketika Nabi masih hidup, maupun setelah wafat.

Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari menandaskan, “bahwa Rasulullah beri’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhanhingga beliau wafat”. Kegiatan i;tikaf ini dihubungkan dengan kedatangan Lailatul Qadar yang sebagian besar pendapat menyatakan jatuh pada malam ganjil 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Imam Bukhari meriwatkan dari Siti Aisyah : “Rasulullah SAW jika telah masuk sepuluh hari terakhir (Ramadhan), Beliau mengikatkan kainnya dan menghidupkan malamnya, serta membangunkan keluarganya”. Aisyah jug aberkata, “Rasulullah SAW beri’tikaf pada 10 hari terakhir dari Ramadhan hingga beliau meninggal dunia. Kemudian isteri=isteri beliau juga beri’tikaf setelah wafatnya”. ( HR Bukhari dan Muslim).
Begitu pentingnya ibadah i’tikaf dalam pandangan Rasulullah SAW sehingga tak pernah meninggalkannya. Akan tetapi sudah banyak orang yang melupakannya. Apalagi kesibukan urusan duniawi semakin hari semakin erat mengikat. Maka i’tikaf mungkin hanya tinggal kenangan. Sesuatu ibadah sunah yang sangat ianjurkan tapi justru semakin dilupakan.

I’ tikaf merupakan sarana meningkatkan kualitas ketaqwaan yang sangat efektif bagi seorang muslim dalam memelihara keislamannya. Pengembangan Rohaniah akan lebih sempurna apabila telah kita lengkapi denga beri;tikaf di masjid. Dengan i;tikaf sejenak kita tinggalkan urusan dunia dan mengisi rohani dengan berbagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Orang yang beri’tikaf memperbanyak membaca Alquran, ibadah-ibadah sunat. tasbih, takbir tahmid, istighfar, salawat kepada Nabi Muhammad SAW dan amalan-amalan lain yang dibolehkan oleh syara.

Walaupun i’tikaf berarti mengasingkan diri, namun orang yang beri’tikaf dimakruhkan menahan diri berbicara kepada orang lain yang ditemui di dalam masjid selama beri’tikaf. Diam di dalam masjid, bukan berarti orang beri’tikaf tidak boleh ke luar masjid. Untuk buang air, mengantar keluarga, mandi, diperbolehkan, karena tidak membatalkan i’tikaf. Yang dilarang adalah melakukan kewajiban suami isteri. Larangan ini langsdung dari Allah SWT, Surat al-Baqarah :187 ” dan janganlah kamu menyetubuhi isterimu, selagi kamu sedang beri’tikaf di dalam mesjid”.

Sobatku, memang i’tikaf terasa berat untuk kita lakukan. Harus diam di mesjid, berkhalwat, menjaga larangan-larangan yang dapat membatalkan i’tikaf. Di bulan Ramadhan sekarang ini mari kita coba melalui i;tikaf meski memiliki waktu sempit akibat himpitan dan tuntutan pekerjaan. Kalu tidak sekarang lantas kapan lagi? Wallahu ‘alam.

By: Azmi Fajri Usman
Maestro Motivator