Ketahuilah bahwa bahaya lidah sangat besar dan tidak ada yang bisa selamat darinya kecuali dengan diam. Oleh karena itu pembuat syariat memuji dan menganjurkan diam. Nabi SAW bersabda yang artinya: “Siapa yang diam, pasti selamat.”

Luqman berkata: “ Diam adalah kebijaksanaan, tetapi sedikit sekali orang yang melakukannya.”

Abdullah bin Sufyan meriwayatkan dari bapaknya, ia berkata: “Aku berkata, wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang islam; dengan suatu perkara yang aku tidak akan bertanya lagi kepada seseorang sesudahmu.” Nabi SAW bersabda: “Katakanlah: ‘Aku telah beriman’ kemudian istiqamahlah.”Abdullah bin Sufyan berkata: Aku bertanya, “Lalu apaka yang harus aku jaga?” Kemudian Nabi SAW mengisyaratkan dengan tangannya ke lidahnya.”

Rasulullah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang kedalam surge, lalu beliau bersabda: “Taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik. “ dan beliau ditanya sesuatu tentang yang paling banyak memasukkan orang kedalam neraka, kemudian beliau bersabda: “Dua hal yang kosong: Mulut dan kemaluan.”

Bisa jadi yang dimaksud dengan mulut adalah penyakit-penyakit lidah karena ia menjadi tempatnya, dan bisa juga yang dimaksud adalah perut karena ia menjadi tempat lewatnya.

Mu’adz bin Jabal berkata: “ Aku berkata, wahai Rasulullah, apakah kita akan disiksa karena apa yang kita ucapkan?” Nabi SAW bersabda: “ Bagaimana kamu ini wahai Ibnu Jabal, tidaklah manusia dicampakkan ke dalam api neraka kecuali karena akibat lidah mereka.

Diriwayatkan bahwa Mu’adz berkata: “Wahai Rasulullah, amal perbuatan apa yang paling utama?” Kemudian Rasulullah SAW menjulurkan lidahnya lalu meletakkan jemarinya diatasnya.

Beberapa Atsar

Abu Bakar ash-Shiddiq ra meletakkan kerikil di mulutnya untuk mencegah dirinya dari berbicara. Ia menunjuk pada lidahnya seraya berkata: “inilah yang menjerumuskan aku kedalam kehancuran.”

Wahab bin Munabbih berkata, tentang kebijaksanaan keluarga Dawud, ” Adalah kewajiban orang yang berakal untuk mengetaui zamannya, menjaga lidahnya dan mempersiapkan urusannya.”

Sebagian ulama berkata: “Diam menghimpun dua keutamaan bagi seseorang: Keselamatan agamanya dan kefahaman tentang orang-orang yang beragama.”

Jika anda bertanya, apa sebabnya diam memiliki keutamaan demikian besar? Maka ketahuilah bahwa sebabnya adalah karena banyaknya penyakit lidah, seperti salah ucap, dusta ghibah, namimah, riya’, nifaq, berkata keji, debat, terlibat dalam kebatilan, bertengkat, ikut campur urusan orang, memalsukan, menambah, mengurangi, menyakiti makhluk, dan menyingkap berbagai aurat.” Penyakit yang banyak ini sangat mudah dan ringan meluncur dari lidah, terasa manis didalam hati, dan memiliki berbagai dorongan dari tabi’at dan syetan; bahkan orang yang melibatkan diri di dalamnya jarang mampu menahan lidahnya. Keterlibatan dalam berbagai penyakit lidah sangat berbahaya sedangkan diam adalah jalan keselamatan, oleh sebab itu keutamaan diam sangatlah besar. Disamping bahwa didalam diam itu terkandung kewibawaan, konsentrasi untuk berfikir, dzikir dan ibadah. Didalam diam juga terkandung keselamatan dari berbagai tanggung jawab perkataan di dunia dan hisabnya di akhirat.

Allah berfirman: tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya melaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf:18)

Hal lain yang menunjukkan keutamaan diam adalah bahwa perkataan terbagi atas empat bagian: Perkataan yang berbahaya sepenuhnya maka kita harus diam tidak mengucapkannya. Demikian pula perkataan yang mengandung bahaya dan manfaat. Adapun perkataan yang tidak mengandung bahaya dan tidak pula bermanfaat maka ia adalah fudhul (hal yang lebih dari yang diperlukan);menyibukkan diri dengannya berarti menyia-nyiakan waktu dan merupakan kerugian. Dengan demikian tinggal bagian yang terakhir, yaitu yang bermanfaat sepenuhnya.

Selanjutnya adalah penyakit-penyakit lidah dari yang paling ringan kemudian meningkat kepada yang lebih berat. Karena pengkajiannya lebih panjang yakni terdapat dua puluh penyakit lidah, maka pembahasannya akan dibahas pada kesempatan  yang lain.

(Ihya Ulumuddin Al-Ghazali)

Azmi Fajri Usman

Maenstro Motivator